in

KPK Periksa 2 Anak Anggota DPR dalam Kasus TPPU Bupati Probolinggo Tidak Aktif

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap Zulmi Noor Hasani dan Dini Rahmania.

Keduanya dikabarkan merupakan anak kandung anggota DPR RI nonaktif Hasan Aminuddin (HA) dari istri pertamanya, Dian Prayuni.

Hasan Aminuddin merupakan tersangka kasus dugaan suap terkait jual beli jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Probolinggo dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari dan suaminya yang juga anggota DPR RI Hasan Aminuddin mengenakan rompi penjara saat konferensi pers Operasi Penangkapan (OTT) di gedung KPK, Jakarta, Selasa (31/1). /8/2021) dini hari.  KPK telah resmi menahan Puput Tantriana Sari dan Hasan Aminuddin beserta 3 tersangka lainnya dengan barang bukti Rp.  362,5 juta sehubungan dengan dugaan pemilihan jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Probolinggo pada tahun 2021. Tribunnews/Irwan Rismawan
Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari dan suaminya yang juga anggota DPR RI Hasan Aminuddin mengenakan rompi penjara saat konferensi pers Operasi Penangkapan (OTT) di gedung KPK, Jakarta, Selasa (31/1). /8/2021) dini hari. KPK resmi menahan Puput Tantriana Sari dan Hasan Aminuddin beserta 3 tersangka lainnya dengan barang bukti Rp 362,5 juta terkait dugaan pemilihan jabatan di Pemkab Probolinggo pada 2021. Tribunnews/Irwan Rismawan (Tribunnews/Irwan Rismawan)

Hasan ditetapkan sebagai tersangka bersama istrinya, Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari (PTS) nonaktif.

Zulmi Noor Hasani dan Dini Rahmania akan diperiksa dalam kapasitasnya sebagai pengurus Yayasan Hati milik Hasan Aminuddin.

Zulmi Noor Hasani adalah Wakil Ketua Yayasan Hati.

Sedangkan Dini Rahmania menjabat sebagai Bendahara di Yayasan Hati.

Baca juga: KPK menduga Formula E mahal karena kurang menariknya Jakarta

Baca juga: Lokasi Sirkuit Formula E Bocor, Diumumkan Jelang Natal, Lokasi di Jakarta Utara

Selain Zulmi Noor Hasani dan Dini Rahmania, penyidik ​​juga memanggil 11 saksi lainnya, yakni seorang mahasiswa, Hayu Kinanthi Sekar Maharani; Petani, Abdul Wasik Hannan; Pensiunan Polri, Hasani; Kepala Dinas PUPR Probolinggo, Hengki Cahjo Saputra; Direktur CV Atsil Hidayah, Taufik Hidayat.