Toto Santoso, Raja Keraton Agung Sejagat (sumber: detik.com)
in ,

Inilah Toto Santoso, Raja Keraton Agung Sejagat

Inilah Toto Santoso yang mengatakan dirinya adalah sebagai Raja Keraton Agung Sejagat mengklaim tidak pernah menekan dan memaksa masyarakat supaya ingin menjadi pengikutnya. Beberapa ratus penduduk dari beberapa wilayah di Jawa Tengah yang bergabung dengan Keraton yang dipimpinnya melakukan hal demikian dengan sukarela.

“Mereka yang turut ikut sebetulnya sudah mengetahui serta memahami mengenai saya. Sejauh ini kami belum pernah mendesak serta memaksa siapa saja,” kata Toto demikian dikutip dari Detik.com.

Kalimat itu ia berikan waktu ditanya masalah pasal penipuan yang dipakai penyidik kepada Toto Santoso. Karena dari temuan tim penyidik Mapolda Jawa Tengah dari lebih kurang 400 pengikut Keraton Agung Sejagat, ada yang wajib menyetor uang jutaan rupiah kepada Toto serta permaisurinya, Fanni Aminadia. Mereka sampai melakukan hal tersebut sebab iming-iming jabatan dan penghasilan dalam mata uang dolar AS.

Lelaki asal Wonosobo berumur 42 tahun itu mengatakan apa yang ia kerjakan bersama dengan pengikutnya sebetulnya bagian dari ekspresi kebudayaan. Ditambah lagi kirab budaya yang diadakannya tidaklah sampai mengganggu arus jalan raya sebab hanya keliling kampung. Tetapi lantaran ternyata dipandang kebablasan serta memunculkan kehebohan yang mengganggu.

“Kami meminta maaf terutamanya pada masyarakat Desa Pogung Jurutengah, Bayan di Purworejo,” tutur Raja Keraton Agung Sejagat.

Dia menerima sekaligus menyesalkan hukuman sosial yang diterimanya bersama dengan Fanni berkaitan masalah itu. Ia mengharap dirinya bisa mengambil hikmahnya karena masalah ini sebenarnya tidak hanya menjadi perhatian publik di Tanah Air dan juga dari dunia internasional.

“Mudah-mudahan ada hikmahnya. Kami berhadap menjadikan Purworejo semakin maju, Purworejo lebih dikenal dunia,” kata Raja Keraton Agung Sejagat.

Tidak hanya membatasi waktu wawancara sekitar 15 menit sebab alasan sudah lelah, ia menampik beberapa pertanyaan berkaitan kasusnya yang membelitnya. Alasannya telah masuk materi pemeriksaan polisi.

Ini Pria Pemilik Lahan Keraton Agung Sejagat

Kehadiran pemilik tanah Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Chikmawan, pada akhirnya ditemukan. Pria sebagai Mahamenteri (sebelumnya ditulis Mahapatih) Keraton Agung Sejagat ini tampak saat kunjungan polisi serta perangkat desa ke tanahnya.

Ini Pria Pemilik Lahan Keraton Agung Sejagat
Ini Pria Pemilik Lahan Keraton Agung Sejagat (Sumber: Detik.com)

Kunjungan rombongan polisi ini dibarengi pemerintah desa Pogung Juru Tengah. Chikmawan ikut juga dalam rombongan itu.

Mahamenteri Keraton Agung Sejagat itu tampak menggunakan baju warna biru. Pria memiliki badan kurus itu kelihatan sibuk menjelaskan beberapa bagian bangunan Keraton Agung Sejagat itu pada rombongan polisi serta aparat desa.

Ia sempat juga menjawab pertanyaan Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Iskandar Fitriana Sutisna alasan pembangunan di Desa Pogung Juru Tengah.

“Pertimbangannya lantaran teman-teman Purworejo ingin lebih dekat saja. Sebab di Kabupaten Purworejo 66 pengikut dan kebetulan di sini ada halamannya ,” jawab Chikmawan, di Desa Pogung Juru Tengah, RT 03 RW 01, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Rabu (22/1/2020).

Disamping itu, Chikmawan menerangkan tentang jabatannya di Keraton Agung Sejagat. Ia menyinggung masalah DEC (Development Committee) sampai Sunda Empire sebelum berubah menjadi Keraton Agung Sejagat.

“Saya dapat (jabatan) Mahamenteri, Pak. Jika awalannya itu (Keraton Agung Sejagat) dari DEC, Sunda Empire, World Empire, terus beralih Keraton Agung Sejagat ini,” tuturnya.

Chikmawan diketahui pemilik tanah tempat Keraton Agung Sejagat dibuat di Purworejo. Ia sempat menghilang bak ditelan bumi selesai diminta keterangan polisi beberapa waktu lalu.

Pria itu diketahui sebagai seorang pegawai negeri sipil (PNS). Tetapi pada 2017 mendadak Chikmawan mengundurkan diri sebagai PNS.

“Jadi ia (Chikmawan) itu diangkat jadi PNS tahun 2015, terus tahun 2017 itu pindah ke (satu institusi) Purworejo serta di tahun itu ia keluar (dari PNS). Saya bingung kok justru keluar, walau sebenarnya telah jadi PNS,” kata Kepala Desa Pogung Juru Tengah, Slamet Purwadi.Pria itu diketahui sebagai seorang pegawai negeri sipil (PNS). Tetapi pada 2017 mendadak Chikmawan mengundurkan diri sebagai PNS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *