in

Lika-Liku Tarif Ojek Online

Kemenhub masih merumuskan soal aturan tarif batas atas dan bawah ojek online. Penetapan kenaikan tarif ojek online (ojol) memang masih jadi perbincangan hangat belakangan ini karena menyangkut sumber penghasilan utama para driver ojol. Setidaknya pihak-pihak terkait harus memikirkan bagaimana aturan baru nantinya bisa melindungi hak konsumen dan sekaligus menguntungkan di pihak ojol sendiri.

Jika didasarkan pada perhitungan soal jenis BBM yang digunakan, ada kemungkinan perumusan tarif ojek online ini akan berlangsung dengan alot jika tidak ada titik temu. BBM yang digunakan memang bervariasi antara lain premium, pertalite, dan pertamax dengan harga yang jelas-jelas berbeda.

Penghitungannya harus dilakukan secara transparan agar tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan. Ada baiknya pihak-pihak terkait seperti konsumen dan driver ojol diikutsertakan dalam pembicaraan tarif ojek online sehingga bisa terjadi kesepakatan. Selain itu, kemenhub juga membuat semacam persentase komisi yang diterima aplikator.

Kementerian Perhubungan sampai saat ini belum mengumumkan secara resmi besaran tarif ojek online karena belum terdapat kesepakatan. Beberapa usulan sudah diterima oleh Kemenhub, tapi keputusan tentunya berada ditangan mereka.

Driver ojol menginginkan tarif sebesar Rp 3.000/km dengan asumsi belum kena potongan 20% untuk aplikator. Dengan kata lain driver ojol menerima pendapatan bersih Rp 2.400/km. Sedangkan aplikator mengusulkan tarif ojek online Rp 2.000-Rp 2.100/km. Untuk nett-nya kemungkinan Rp 1.600/km.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *